Setelah tak bersama Chapter 1


Bangun pagi ini, lyra begitu semangat. Ini hari pertama ia bekerja di perusahaan yang memang menjadi impiannya semenjak kuliah, Gerfond Company. Perusahaan asing inilah yang membuatnya mengejar impiannya hingga kuliah di negeri paman Sam. Ia mendapatkan beasiswa Full dari perusahaan ini di bidang administrasi bisnis di Harvard University. Lyra adalah lulusan terbaik yang mendapatkan predikat cumlaude.

Pagi yang begitu cerah, secerah hatiku” gumam lyra dengan semangat. Dia begitu luar biasa menggebu gebu di hari pertamanya bekerja setelah ia dinyatakan diterima seminggu yang lalau. Seragam yang telah disiapkannya dikenakan dengan begitu rapi  dan elegan.  Lyra begitu yakin Penampilan adalah hal pertama yang dilihat dan dinilai orang lain dari dirinya.

Dengan langkah kaki yang bersemangat ia melangkah masuk ke dalam perusahaan itu. Sejenak ia berhenti di receptionist untuk menananyakan di lantai berapa ruang konferensi berada. lyra membaca di jadwal yang ia terima, bahwa hari ini ia harus ikut konferensi dulu untuk menilai profil dan dan menganalisis persaingan bisnis Gefond Company dengan perusahaan lainnya. Inilah tugas pertama yang diberikan tutornya yang tak lain manajer di department marketing dan bisnis.

Masuk ke ruang konferensi, lyra segera mengambil tempat duduk yang berada di tengah, tidak terlalu di depan dan tidak terlalu di belakang. lyra ingin sekali menunjukan kemampuan terbaiknya sebagai fresh graduate lulusan universitas ternama di Amerika maka dari itu lyra ingin serius menyimak isi konferensi ini. Lyra mulai menyesuaikan duduk dengan nyaman saat ada suara yang menyapanya. Ia menoleh dan mendapati seorang wanita yang segera dia kenali sebagai teman yang sama sama dinyatakan diterima di perusahaan ini berbarengan dengan dia.

“hai..” sapa wanita itu

Lyra sejenak mengingat nama wanita ini, saat wanita itu ternyata sedang mengulurkan tangan,

“Prisila larasati..”, Lyra pun dengan cepat menyambut uluran tangan teman barunya ini. Dan ketika ia hendak menyebutkan namanya, langsung dipotong oleh wanita itu,

 “anda pasti Lyra.. “ gumam wanita itu

Lyrapun langsung menjawab “ooh yaa, Lyraisha Darmajaya”.

“Siapa yang tidak tahu dengan anda,  Lyraisha Darmajaya peserta yang mendapatkan nilai tertinggi saat test penerimaan Gerfond Company bahkan menjadi pemecah rekor nilai tertinggi pelamar perusahaan ini..” gumam Prisil dengan kagum, yang disambut senyum kebanggan di bibir Lyra.

Rupanya datang cepat ke ruang konferensi membuat lyra mendapatkan banyak kenalan. Mereka di antaranya adalah sesama pegawai baru di perusahaan ini. Ada si centil Melani, si Kikuk Rio dan sis sok tampan Raymond . yah setidaknya itulah karakter dominan yang dibaca lyra dari perkenalan singkatnya itu. Eehmm, sejenak lyra berpikir, “mereka menilai saya seperti apa”? Gumamanya dalam hati

Lyra begitu serius membaca kembali berita dan profil perusahaan ini dan perusahaan lain yang menjadi saingannya hingga ia tak sadar bahwa ruang konferensi ini sudah penuh dengan pegawai dari berbagai deprtemen dan acara sudah dimulai bahkan sudah ada langkah kaki yang telah menuju podium ruang konferensi ini. Lyra baru sadar saat temannya menyebutkan nama direktur eksekutif yang sudah berada di podium tersebut untuk mennyampaikan pidato singkatnya.

“ Itu pasti pak Ferdinan  Alpath . wow, dia keren sekali, lebih tampan dilihat langsung seperti ini, berkharisma dan masih muda..” seru melani dengan suara yang sengaja di pelan-pelankan.

Seketika itu pula, Lyra berhenti membaca dan segera mendogkakkan kepalanya ke podium konferensi. Ditatapnya sosok pria yang tadi dikatakan melani, tapi pria itu  sedang menoleh, untuk membisikkan sesuatu ditelinga asisten pria nya. Sehingga Lyra belum bisa melihat jelas sosok yang ada di depannya sekarang.  Tanpa sengaja dokumen personal yang sedari tadi  berada dipangkuannya jatuh kelantai. Dengan segera Lyra mencari dokumen personal itu yang ternyata jatuh kebawah tempat duduk seseorang yang berada di depannya,  dengan suasana gelap temaram di ruang konferensi itu, lyra kesulitan mengambil dan menjangkau dokumen personal tersebut. Tangannya masih berusaha menjangkau, namun masih belum bisa.

“Selamat Pagi, rekan rekan Gerfond Company, …” seru Ferdi dengan lantang

Lyra yang sedari tadi sibuk mengambil dokumen personal tersebut seketika membeku, suara itu,  nama itu mengapa begitu familiar. Bagaimana bisa seseorang mempunyai nama dan suara yang begitu sama?. Pikir Lyra dalam hati.

“dan selamat datang pula untuk pegawai baru Gerfond Company yang begitu luar biasa..” lanjut Ferdi dengan Lantang..

Mendengar suara yang ia kenali itu, lyra langsung menatap segera kedepan lupa akan dokumen personal yang ia jatuhkan itu, tapi terhalang oleh melani yang sedari tadi mendongkakkan kepalanya dengan begitu semangat. Sampai pada saat melani menurunkan kepalanya, tanpa sadar Lyra pun langsung mendongkakan kepalanya kedepan , dan dengan segera mengenali sosok itu. Sosok yang berdiri dengan begitu berkharisma didepan podium itu. Sosok yang begitu dikenalinya, sosok yang telah lama tak dilihatnya. Jauh dari dalam relung hatinya, Lyra merindukan sosok itu, walaupun sampai sekarang tak diakuinya.

Ferdi begitu serius dan lantang menyampaikan berbagai peluang bisnis, pendapatan terakhir dan keuntungan luar biasa dari Gerfond Company, sedangkan Lyra masih tak bergerming menyerap kenyataan yang ada di depannya ini. Hingga Lyra melupakan tugas untuk menganalisis  dan merangkum semua yang disampaikan oleh direktur eksekutif tersebut. Lyra benar benar terhanyut oleh sosok yang ada di depannya sekarang.

“sampai disini yang bisa ku sampikan, Kuharap kita bisa mengharmonisasikan langkah bersama demi Gerfond Company yang gemilang..” seru ferdi menutup pidato singkatnya, yang langsung disambut tepukan tangan yang meriah dari segala penjuru ruang konferensi.

Lyra masih termenung dengan kenyataan ini, disaat yang lain bertepuk tangan meriah, lyra hanya diam membeku dengan tatapan kosong. tanpa disadarinya Ferdi memperhatikan dan  memandang tepat kearahnya. ferdi melihat hanya Lyralah yang tidak bertepuk tangan. saat ia memandang ke arah Lyra, ia terkejut melihat sosok yang amat dikenalinya berada satu ruangan dengannya.

tiba tiba Dari arah samping Prisil menyikut lengan Lyra. seketika itu barulah Lyra tersadar  dan segera langsung menatap ke depan  untuk mulai fokus lagi. saat itulah mata Lyra bertatapan lekat dengan mata ferdi yang memang sedari tadi telah memandangi lyra dari podiumnya.

acara di ruang konferensi sudah selesai. semua pegawai dan karyawan sudah mulai meninggalkan tempat duduk masing-masing menuju ke ruangan kerjanya. sedangkan Lyra masih termenung menyerap kenyataan yang belum bisa dipahaminya.

Masih terkejut dengan kenyataan ini, Lyra berjalan sendiri keluar dari ruang konferensi yang ternyata sudah lumayan sepi.

“ begitu tidak semangat di hari pertamamu”  seru seorang pria kepada Lyra

Lyra berhenti dan segera menoleh kearah sumber suara yang didengarnya,

“Lyraisha Darmawijaya?” Tanya ramah lelaki itu..

Lyra mengangguk dan pria itu segera memberikan dokumen personal milik lyra yang sempat terlupakan tadi, kepadanya.

Pria itu langsung mengulurkan tangannya sambil bergumam “Alvino Wiratmodjo..” yang langsung disambut oleh Lyra dengan senyum ramahnya yang sedikit dipaksakan. Mereka berbicara singkat, sambil sesekali tertawa berjalan menuju ruang kerja masing masing.

Tanpa Lyra dan Vino sadari, ada mata tajam yang memandang dari pintu samping, yang bertuliskan khusus eksekutif, “only eksekutif”.

****
Selanjutnya : Setelah Tak bersama Chapter 2


EmoticonEmoticon