Setelah Tak bersama Chapter 19


 Pertama Baca? baca Setelah tak bersama Chapter 1

***

perjalanan menuju apartemen berlalu dalam keheningan. Mereka bahkan tak saling menatap semenjak makan malam tadi. Mata Lyra focus memandang keluar lewat kaca mobil, tiba-tiba saja Ia merasa banyak hal menarik di luar sana. 

Ferdi tak kalah tegangnya. Ia terlihat focus sekali menyetir padahal pikirannya sendiri mengembara entah kemana.

Tiba di apartemen mereka, Lyra dan Ferdi masih enggan mulai bicara. Mereka seolah sibuk dengan pikiran masing masing. Saat Lyra masuk dalam kamar dan berganti pakaian, ferdi keluar. Begitupun sebaliknya. Tiba waktu jam tidur, Ferdi justru tidak masuk masuk lagi ke dalam kamar mereka. Lyra pun terlihat sudah tidur  pulas di atas tempat tidur.

Lyra bangun bahkan di saat matahari belum menampakan sinarnya. Ia keluar dari kamarnya menuju dapur hendak mengambil secangkir air untuk minum. Tak sengaja dilihatnya ferdi terjaga di ruang tengah, duduk sambil menatap Televisi yang Ia tahu sebenaranya tidak ditonton.
Sekembalinya lyra dari dapur, Ferdi menyapanya.

“Sweethert, apa tidurmu nyenyak?” tanya ferdi sambil menatap mata Lyra

Lyra berhenti dan ikut menatap ferdi, dilihatnya sosok ferdi begitu rapuh.

“kau tahu, aku bahkan tak tidur semalam..” jawab Lyra sambil menghampiri Ferdi dan duduk tepat di sampingnya.

“mana mungkin aku bisa tidur nyenyak sementara ada sesuatu yang mengganjal di antara kita. aku tak tahan dengan kebekuan ini. Mari kita bicarakan.. ” Ucap Lyra

Ferdi menghela nafas panjang, dirangkulnya sosok Lyra agar lebih mendekat lagi kepadanya.
“kau tahu sweetheart, aku sudah memikirkannya. Aku tak kan bisa jauh dari mu, diantara kita memang harus ada yang mengalah…” ucap ferdi berhenti sejenak

“aku ingin kau bersamaku di sana. Melewati moment moment indah dalam hidup, membangun sebuah keluarga sempurna. Kau tahu? Kau bahkan sudah sangat sempurna saat ini tanpa mimpi-mimpi itu, ikutlah kesana bersamaku Lyra, please..” pinta Ferdi dengan tulus

Lyra diam sejenak, mencerna permintaan ferdi tadi. Ia tahu Ia akan menolaknya. Tapi bagaimana mengatakannya agar ferdi bisa menerimanya. Akhirnya Ia memulai,

“Ferdi, dengarkan. Aku sudah menegaskan sebelumnya. Aku punya mimpi dan kau pun begitu. Aku tak akan mengatakan bahwa selama ini kita berada di jalan yang salah.aku bahagia, sangat bahagia. bahkan di saat ini. Kita hanya perlu melewati jalan yang berbeda saat ini. Berpisah dalam arti yang sebenarnya..”

Ferdi sama sekali tak ingin percaya dengan apa yang di dengarnya saat ini. Lyra meminta berpisah..?
“Lyra kau..” ucap ferdi kembali dipotong Lyra

“itulah jalan terbaik satu satunya untuk kita..” ucap Lyra menjawab keraguan Ferdi barusan.
“aku tak bisa. Tak kan pernah bisa. Berpisah dari mu adalah akhir bagi ku. Lyra aku tak kan pernah menganggap kau mengucapkannya. Sekarang kau hanya perlu katakan ya, kau ingin pergi bersamaku..”

“tidak tidak..” bantah lyra cepat.

“kau yang hanya perlu mengatakan ya untuk kita berpisah, aku telah memikirkannya semenjak dari singapura fer, ini jalan terbaik bagi kita. karena di jalan masing masing itu kita tak kan pernah tahu dimana kita kan berhenti. Maksudku, kita hanya perlu mengakhiri ini agar jalan manapun yang akan kita lalui nantinya tak kan pernah kita sesali…” ucap Lyra bergetar menahan tangisnya. Ia pun tak percaya dengan apa yang diucapkannya. Ia takut menyesali apa yang dipintanya itu. Ia sudah ingin mencabut ucapannya barusan saat ferdi mengucapkan,

“Aku hanya perlu melepaskanmu ya?” ferdi mulai terbawa emosi

“kita akhiri cukup sampai disini. Sekarang kau resmi sendiri..” ucap ferdi sambil meninggalkan Lyra sendirian. 

Ia perlu udara segar. Walaupun matahari masih belum nampak, namun Ferdi memutuskan untuk keluar. Mengemudikan mobilnya tanpa arah. Membuang buang waktunya agar Ia tak bertemu Lyra menjelang keberangakatnnya.

Rupanya hari berjalan cepat sesuai yang ferdi inginkan. Walaupun Ia masih tinggal satu atap dengan Lyra, namun Ia bisa tidak bertemu dengannya selama dua hari ini. Ia hanya perlu menghabiskan waktu malam dan kembali sampai Lyra sudah tertidur dan bangun saat Lyra juga belum bangun. Lalu kemana Ia pergi? Ia pergi ke taman belakang Kampusnya, tempat favorit mereka sekaligus tempat yang merekam moment indah saat dirinya melamar Lyra satu tahun yang lalu.

Saat seorang pria telah sakit hati. Itulah yang terjadi. Ia tak kan meminta kembalisaat Ia pernah ditolak. Ego seorang pria itu luar biasa jika sudah menyangkut harga diri. 

Malam itu, ferdi benar benar sudah merasa meminta dengan tulus Lyra untuk ikut bersamanya. Namun lagi lagi Lyra menolak. Maka Ia tak kan menoleh kebelakang lagi.

****
maaf, updatenya sedikit banget, author lagi gastritis akut soalnya. ini aja nyempetin posting.

#peluk ciumku untuk readers setia 

Selanjutnya : setelah Tak bersama Chapter 20


EmoticonEmoticon