Setelah tak bersama Chapter 20

 Pertama Baca? baca Setelah tak bersama Chapter 1

****

Hari keberangkatannya tiba. Ferdi sudah menyiapkan koper jauh hari sebelum keberngkatannya. Dia hanya membawa beberapa barang yang dianggap penting saja. saat hendak memasukkan passport dan tiket pesawatnya, ferdi tak sengaja melihat sebuah tiket dan passport atas nama Lyra yang sudah ia siapkan saat ia dinyatakan lulus beasiswa itu. tapi apalah daya sekarang. Semua hanya tinggal rencana. Ia hanya akan berangkat sendiri.


Akhirnya Ia keluar dari kamar dengan menyeret koper besarnya itu, sesaat ia berhenti di sebuah meja kerja hanya untuk membawa beberapa alat tulis yang mungkin ia perlukan di jalan, tak sengaja dilihatnya, sebuah kertas biru yang masih kosong. Akhirnya ia mencoba menulis kata-kata perpisahan darinya untuk Lyra. 


Rangkaian kata demi kata ia tuliskan di kertas biru itu. 


“Hari yang menjadi saat paling indah dalam hidup ku..

Hari yang akan selalu aku ingat tiap detiknya

Hari yang paling membahagiakan untukku..

Kuharap untukmu juga..

Adalah hari pernikahan kita ( 20 Februari 2010)

walau kini kita harus berpisah,

aku tak pernah menyesal pernah menjadi bagian indah dari hidupmu

jangan pernah mencoba melupakan aku dan kenangan bahagia kita,

karena kau tahu aku akan tetap mengingatnya, selamanya.

dan ketahuilah hari hari terindah dalam hidupku,

adalah saat kau menjadi istriku..”

-Ferdinan A-



Ia teringat dahulu sering kali mengirimkan kata-kata indah lewat tulisan untuk Lyra. Tapi kali ini, Ia pun tak sanggup membayangkan mungkin saja inilah surat-surat terakhir yang ia tulis untuk lyra.

Tersadar dari keadaan, ferdi akhirnya memutuskan bergegas untuk segera berangkat ke bandara. Ia tak mau sampai keberangkatannya terlambat. Walau ia rasanya tak sanggup berangkat tanpa Lyra bersamanya, namun keputusan sudah ia ambil. “Inilah yang terbaik..” gumamnya dalam hati


saat ferdi sudah sampai di loby apartement, tanpa sengaja dilihatnya Lyra berlari menuju ke arah dirinya. Ia sudah hendak naik taxi waktu itu, namun tangan Lyra menghalangi dirinya, ternyata Lyra ingin ikut ke bandara.


Di bandara, ayah dan Ibu ferdi sudah menunggu. Dari kejahuan, dilihatnya Lyra dan ferdi berjalan bersama. Masih terlihat begitu serasi terlepas dari keputusan yang akhirnya mereka ambil.  Orang tua keduanya masih tidak tahu perihal perpisahan anaknya.


“syukurlah, kalian datang tepat waktu, ayo..” ucap ibunda ferdi


Mereka segera bergegas ke ruang tunggu bandara, setelah sebelumnya ferdi mengurus beberapa keperluan di pihak imigrasi, Ia kembali lagi menjumpai keluarganya.


“pesawatnya take off sekitar 30 menit lagi, setidaknya aku masih punya waktu 10 menit disini..” ucap ferdi


melihat ekspresi lyra dan ferdi  yang agak berbeda dari biasanya, akhirnya ibundanya bergumam

“kami tahu ini akan jadi begitu berat untuk kalian, tapi percayalah, ini tak kan terasa lama..” ujar ibu ferdi


“teknologi sekarang sudah benar-benar canggih, ayolah, jarak memang memisahkan kalian, tapi hati tetap satu..” hibur ibunda ferdi untuk kedua anaknya yang akan segera berpisah.


“Lagipula, sewaktu ayah ferdi kuliah di belanda, hubungan kami masih se romantic saat kami bersama-sama, seolah jarak tidak jadi masalah padahal teknologi waktu itu belum lah secanggih sekarang..” kenang ibunda ferdi


Mendengar cerita ibundanya, Lyra dan ferdi hanya menampakkan senyum getir. Keduanya merasa bersalah telah menyembunyikan perihal keputusan final yang telah mereka ambil. Tapi harus bangaiman lagi..

10 menit hampir berlalu, sadar akan waktunya,  ferdi segera menyalami tangan ayah dan ibunya serta memeluk meraka, dilihatnya Lyra dengan ragu ragu, karena tak tahu harus bagaimana, dipeluknya Lyra dengan begitu erat seolah olah ia tak ingin mereka berpisah. Disela-sela pelukan itu, ia berbisik “masih bolehkah aku memelukmu seperti ini?..” ucapnya Lyrih


Lyra berusaha keras menahan air matanya agar tidak menetes, ia tak mau larut dalam emosi kesedihannya, walaupun jauh dalam lubuk hatinya Ia pasti akan sangat merindukan sosok yang sedang memeluknya saat ini.


Selepas memeluk Lyra, ferdi pamit. Dari kejahuan ayah, ibu dan Lyra hanya melihat ferdi yang segera berjalan menjauh untuk melakukan check in, mengambil boarding pass dan menuju security Check. Di sanalah ferdi melambaikan tangannnya sebelum Ia tak terlihat lagi.


Jika di film-film yang pernah ia tonton, actor utamanya tak jadi berangkat karena tak sanggup berpisah dengan orang yang dicintainya, Ferdi berharap sekali Ia bisa melakukan itu. tapi kenyataanya sekarang Ia sudah mantap duduk di pesawat yang sebentar lagi akan take off. “sampai berjumpa lagi indonesia, jaga dia disini untukku..” bisiknya dalam hati


****
Selanjutnya : Setelah tak Bersama Chapter 21

#peluk ciumku untuk readers setia


EmoticonEmoticon