Setelah tak bersama Chapter 21


 Pertama Baca? baca Setelah tak bersama Chapter 1

****

Semua kenangan 5 tahun yang lalu buyar sudah karena kedatangan Vino yang begitu mengejutkan ferdi.

“hai Fer..” sapa Vino terlihat ramah

Ferdi masih belum sepenuhnya menguasai keadaan, ia bahkan tak sadar masih mengenggam erat tangan Lyra

“ooh, haii vin..” jawab ferdi sekenanya

“aku tak tahu kalau Seorang direktur juga bertanggung jawab menjaga karyawannya di rumah sakit..” sindir Vino terang terangan

“dan kau tahu Lyra tak sadarkan diri pada saat aku yang memanggilnya ke kantorku tanpa memperhatikan keadaanya saat itu” jawab Ferdi mantap

“ooh, jadi kau merasa bertanggung jawab karena hal itu?” Vino menghela nafas sejenak kemudian melanjutkan “ aku juga tak tahu kalau memegang tangan juga merupakan bentuk tanggung jawabmu?..” sindir Vino tajam

“ooh ayolah Vino, apa kau hanya ke sini untuk membahas hal itu? ferdi diam sejenak dan melanjutkan ”aku hanya memastikan Lyra ada yang menemani saat Ia sadar kelak..”

“oke oke aku paham kondisimu, apa kau keberatan jika akupun ingin berada disini saat Lyra sadar..? tanya Vino serius

Tiba-tiba, perawat jaga malam masuk kedalam ruang rawat Lyra.. 

“permisi, saya mau mengganti cairan Infusnya..” jelas perawat itu meminta Ferdi bergeser sedikit dari samping Lyra

Ferdi dan Vino yang sedari tadi sibuk saling menyindir, hanya bisa terpaku melihat perawat itu cekatan sekali menganti infus Lyra yang sepertinya sudah mau habis

“maaf sebelumnya tanpa bermaksud tak sopan, saat ini pasien butuh istirahat, aku harap kalian bisa berbicara di luar. Lagipula hanya diperbolehkan satu orang saja yang menjaga pasien di kamarnya…” 

gumam perawat yang sepertinya sudah lumayan senior itu, dan kemudian berlalu menuju pintu
Vino menarik nafas panjang kemudian bergumam “ sepertinya aku yang harus mengalah, jaga Lyra baik-baik..” 

“tak perlu repot mengatakan itu, aku memang akan menjaga Lyra dengan sangat baik..” jawab Ferdi sekenanya

Tanpa mempedulikan jawaban Ferdi barusan, Vino keluar dari kamar rawat itu..

*****
Jam dinding ruang rawat itu menunjukkan pukul 02.25 wib. Lyra terbangun dan menyadari dirinya berada di rumah sakit. Saat matanya hendak menoleh kesamping, Ia menyadari ada yang mengenggam tangannya. Diliriknya sosok itu, yang tak lain dan tak bukan adalah Ferdinand Alpath. Sang Direktur di perusahaannya. Seketika Itu Lyra teringat kembali kejadian tadi siang di kantor yang menyebabkan Ia tak sadarkan diri. Samar-samar pula Diingatnya Ferdi terburu-buru membopong tubuhnya ke rumah sakit terdekat, Saat itu Ia masih setengah sadar, namun Ia tahu Ferdi sangat menghawatirkannya. Pun saat ini, Diperhatikannya kembali pria yang pernah mengisi hari hari nya 5 tahun yang lalu itu masih menggunakan Pakaian yang tadi siang Ia kenakan lengkap dengan dasinya. Hanya saja, Jas hitamnya sudah dilepas dan di gantungnya disisi tempat duduk yang lain.  Saat itu ferdi tidur meghadap ke arahnya sehingga Lyra bisa dengan leluasa memandanginya. 

Di tengah tidurnya ferdi bergumam “sweetheart maafkan aku..” .

Lyra amat tahu, siapa sosok yang disebutkan Ferdi dalam mimpinya itu. Saat itu Ia merasa ada perasaan hangat yang menagalir di hatinya.  Ferdi masih begitu perhatian kepadanya. Ia jadi teringat kembali pada kenangan 5 tahun yang lalu, saat Ia terbaring di rumah sakit dan ferdi dengan setia menunggunya sampai Ia sadar. Tanpa disadarinya, air mata sudah mulai menggenang di kelopak matanya, seakan sudah siap meluncur di pipi gadis itu. Ia sangat yakin , betapa Ia mencintai Pria yang ada di sisinya saat ini.

Entah apa yang di alami ferdi dalam mimpinya itu, saat Lyra masih begitu menikmati  memandangi pria yang ada disampingnya kini, tiba tiba Ferdi terbangun. Saat itu ekspresinya begitu rapuh, Ia semakin meguatkan genggaman tangannya kepada Lyra, masih belum tahu bahwa Lyra sudah sadar, Ferdi dengan segera memandangi wajah Lyra. Saat itu Lyra dengan cepat pura-pura tidur kembali, namun terlambat, Ferdi sudah menangkap kelopak mata Lyra yang bergerak gerak tidak seperti layaknya orang yang benar-benar tertidur. 

Menyadari hal itu ferdi dengan segera membawa gengagaman tangannya itu ke arah bibirnya dan mencium lembut tangan Lyra. Seketika Lyra membeku, sisi lain dirinya ingin segera menghentikan apa yang sedang ferdi lakukan kini, Tapi hatinya berkata tidak. Ia juga merindukan sosok pria ini. Ia pun akhirnya terbawa suasana. Ferdi dengan segera berbisik kearah telinganya dan memanggil lembut Lyra dengan panggilan sayangnya

“sweetheart..” bisik ferdi lembut

Seketika itu pula Lyra tahu bahwa Ferdi sudah menyadari tidurnya yang pura-pura kini. Dengan perlahan Lyra membuka mata seakan Ia baru saja sadar..

“ooh ehmmm, hai…” Sapa Lyra gugup, ia tak tahu harus mulai dari mana. Sementara Ferdi tersenyum pernuh arti memandang gadisnya itu, hingga Ia pun tak mempedulikan saapaan gugup lyra barusan.

“ehhmm, kau sudah tahu kan, aku sudah dari tadi bangun?..” tanya Lyra yang sebenarnya lebih ke pernyataan yang sama sekali tak membutuhkan jawaban.

Menyadari hal itu, Ferdi denga segera membalas..

“aku tahu dan aku senang. Maksudku semua pria akan senang jika ada seorang wanita yang memandanginya saat tidur..” ucap Ferdi blak-balakan, kemudian ia melanjutkan

“apakah masih kurang puas kamu memandangi ku saat tertidur, sweetheart?” tanya ferdi dengan mimik muka yang menunjukkan ekspresi penasaran tingkat tinggi. Medengar hal itu, Lyra tak tahu harus menjawab apa, pipinya kian bersemu merah saja saat ferdi dengan senyum nakalnya itu sama sekali tak melepaskan pandangannya pada lyra sedikitpun.

Saat itulah, perut Lyra berbunyi, Lyra merasa bunyi perutnya barusan adalah pahlawan yang menyelamatkan dirinya dari santapan buas mata ferdi akan dirinya sehingga ia tak harus menjawab pertanyaan yang ditanyakan ferdi barusan.

“ooh my god, apa itu suara perutmu..?” tanya ferdi yang langsung dibalas anggukan cepat oleh Lyra
“pria macam apa aku ini, bukannya menanyakan bagaimana keadaanmu saat ini, atau apakah kau ingin sesuatu? Tapi aku malah bermain dan terus-terusan menggodamu..” ucap Ferdi dengan mimic muka yang merasa bersalah

“ooh ayolah ferdi, aku sudah sangat berterima kasih ada yang menungguiku saat aku tersadar kini..” jawab Lyra barusan..

“ooh ya sweetheart, apa Kau ingin sesuatu..?” tanya ferdi 

“tentu, kalau tidak merepotkanmu aku ingin roti tawar dengan selai kacang..” jawab Lyra cepat, karena memang saat ini Ia meras lapar sekali

“ooh okelah, ku pastikan kau akan mendapatkan itu sweetheart, tapi sebelumya aku akan memastikan terlebih dahulu kepada perawat bahwa kau boleh memakan jenis roti itu..” ucap ferdi dan dengan segera ia berlalu menuju nurse station terdekat

Mendengar jawaban ferdi barusan, Lyra merasa sangat tersentuh. Ferdi masih saja tak berubah, masih begitu protektif, apalagi diriny tengah sakit kini…

Ferdi kembali tak kurang dari 15 menit sejak kepergiannya. Dengan nafas yang masih belum teratur, ia segera menemui Lyra
“kabar baiknya, kamu boleh memakannya dan aku senang bisa mendapatkannya untukmu…” ucap ferdi seraya membukakkan roti itu untuk lyra

“dan kabar buruknya, kamu harus makannya perlahan, karena lambungmu masih sangat sensitive saat ini. Porsi sedikit tapi sering, itu pesan perawat barusan..” jelas ferdi panjang. Saat itu Lyra sudah dengan lahapnya menyantap roti itu.

Waktu berlalu begitu saja, sehabis menyantap makananan tengah malam itu, Lyra merasa mengantuk dan akhirnya tertidur pulas kembali. Saat ini gantian, ferdilah yang dengan leluasa memandangi gadisnya kini seraya berbisik,
 “aku merindukan saat kau hanya berdua dengan ku saja seperti ini dan aku akan membuat semua ini kembali seperti sediakala..” ucap ferdi Lyrih kemudian melanjutkan “sudah semestinya kan sweetheart..” senyum ferdi begitu saja mengembang, pikirannya ikut menerawang, seakan Ia merencanakan sesuatu.

****
oke Readers segini dulu yah, maaf banget udah hampir seminggu author gak update cz selama seminggu ini gak tau knpa mood nulisnya lagi turun bgt dan emosionalnya lagi gak teratur nih. jadi daripada tulisannya gak berasa feelnya, jadi lebih milih cutii.. sorry yah yang pada nungguin.  terima kasih bagi yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca STB ini.  dimohon Vote & commentnya yah, biar author semangat lagi nulisnya.. :)  

#peluk ciumku untuk readers setia


Selanjutnya : Setelah  tak bersama Chapter 22


EmoticonEmoticon