Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Sebuah Cerpen: Melepasnya


Nerstory,-hanya sebuah kisah yang bukan kisah cinta...
Aku sedang menikmati waktu istirahat kantor, partner in crimeku,

tiba tiba mengusik semuanya. Ia berlari tergopoh-gopoh

“Sau, bagaimana ini?” teriaknya lantang

“Apanya yang bagaimana?” jawabku tak acuh

“Kak, Reza melamarku”

DEG!
“Hah, kok bisa?” tanyaku terkejut

“kak Reza Alumni 2006 itu kan?” tambahku

Kulihat ia mengangguk pasrah lalu mulai bercerita

“ia menganggap serius omonganku waktu itu” mulainya dengan lembut

Aku hanya diam menyimak dan menunggu Lita melanjutkan
“Dia pernah memintaku berpacaran dengannya. Aku bilang saja padanya
kalau aku tidak mengenal yang namanya pacaran. Aku cuma bermaksud
menolaknya waktu itu”


“terus?” pintaku tak sabar

“lalu ia datang lagi hari ini, meminta maaf atas permintaanya waktu itu

dan tiba tiba saja, ia melamarku dan memintaku jadi isterinya” ucapnya
mengakhiri


“aku harus jawab apa Sau?” tanyanya mulai panik

“kalau kamu gak suka, tinggal tolak saja. mudah kan?” jawabku skeptis

“tapi apa alasannya?” tanyanya lemah

“kalau kamu tidak punya alasan untuk menolaknya, berarti kamu harus
menerimanya, Lit.
Menurutku ia lelaki yang baik. Ia juga serius kepadamu, lalu kurang apa
lagi?” suaraku mulai bergetar


“Tapi tidak secepat ini juga, Sau?” sanggahnya cepat

“aku tidak tahu definisi cepat menurutmu Lit. Tapi kalau aku jadi kamu,

Aku tidak akan menyia-nyiakan dia” ucapku sambil berlalu sebelum ia
bisa melihat mataku berkaca.

hanya sebuah cerpen yang pernah kutulis ditahun 2016 silam.
enjoy reading!
saat liburan berahir

saat liburan berahir

Pagi ini, jam biologisku kembali  membangunkan tidur lelapku. Suasana rumah masih begitu hening dan  sepi, ku buka mata perlahan untuk mencerna suasana sekitar dan kulirik jam dinding  di kamarku , tepat pukul empat pagi ternyata tanpa alarampun aku bisa bangun setiap hari tepat jam segini.  perlahan ku bangun dan berjalan menuju kamar mandi untuk berwudhu, kurasakan air dingin mengalir ke tubuhku, segar tapi begitu dingin menusuk. Setelah itu aku larut dalam sunnah malam dan doa-doa panjang yang ku panjatkan.  Di sela-sela menunggu adzan subuh berkumandang, ku lafalkan ayat-ayat suci alquran. Sehabis menunaikan sholat subuh,  sesuai kebiasaan ku, aku kembali ke tempat tidur, kurebahkan tubuh ini, sebelum kantuk mulai  menyerang aku teringat  hari apa ini,  “aah ternyata hari ini hari terakhir liburanku dirumah” pekikku dalam hati, itu berarti besok aku sudah harus pulang ke Kosanku di Indralaya, dan tentunya kembal ke rutinaitasku sebagai mahasiswa.       
            Tak lama setelah aku benar-benar  tertidur, ku dengar sayup-sayup suara ibu memanggilku  dari dapur.. “ din, bangun.. ini sudah jam berapa?”, “ huaooaaam -huaoaam” aku masih belum menyahut, ku dengar kembali suara ibu yang masih belum jera memanggil  nama putrinya, kali ini dengan suara yang lebih nyaring, seketika itu pula aku menjawab, “bu, besok kan dinda sudah harus pulang ke indralaya, tolonglah izinkan dinda bangun sedikit lebih telat kali ini… ” sahutku malas-malasan.. setelah itu tak terdengar lagi suara ibu, itu berarti ibu sudah mengizikan aku  bangun telat kali ini, batinku. sambil melanjutkan tidur dan menarik selimut erat ke tubuhku..  tak selang beberapa lama, kurasakan ada yang menepuk pundakku, “ justru karena kamu pulang besok din,  kamu mesti siap-siap, hari ini ikut ibu kepasar ya?” Tanya ibu, sambil menarik selimutku.. sepertinya aku sudah kalah kali, perlahan aku bangun dan duduk di tempat tidur,  sembari mengumpulkan kesadaranku, aku mulai menjawab, “ yahhh ibu, justru karena besok dinda mau pulang, jadi hari ini mesti menikmati saat saat ternikmat ditempat tidur dan kamar kesayangan dong  bu.. “ jawabku tak mau kalah, “ lagipula masa’ jam segini sudah harus siap-siap kepasar? Ini masih pagi bu.. “ protesku berlanjut.. ku lihat ibu berdiri bersiap-siap meninggalkan kamar, “ kamu ini  anak gadis, gak bagus lah bangun kesiangan, biasakan itu!, lagipula yang namanya belanja ke pasar, yah harus pagi pagi din, biar sayur-sayurya gak keburu layu, dan lauk-lauk yang segar gak diambil orang…” seloroh ibu sambil meninggalkan kamar ku, belum sempat ku menjawab, ibu sudah kembali dengan membawa handukku, “ ayo mandi dinda..” perintah ibu.. dengan gontai ku langkahkan kaki menuju kearah kamar mandi, aku sudah tak sanggup berdebat dengan ibu, aku mengaku kalah, semua alasan  yang ibu kemukakan ada benarnya, pikirku dalam hati..
            “Tuhkan ibu uda tau, walaupun kamu mandinya uda dari tadi, tapi lama amat kamu siap-siapnya din,..”  tegur ibu..  aku tahu ibu benar, aku memang lama sekali kalau bersiap-siap untuk pergi, kemanapun itu.. “oh ya, motor sudah bapak panasin, jadi kita tinggal beragakat aja..” seru ibu.. aku hanya mengangguk dan segera menuju motor.
            Di pasar, ibu terus saja bertanya, apa yang ingin aku bawa ke Indralaya, aku hanya bilang tidak usah saja bu, ntar ngerepotin. Tapi lagi lagi ibu bertanya, dan aku menjawab sekenanya, kayakany enak kalau bawa pempek kekosan jadi kita bikin pempek aja bu.. usul ku, yang segera disetujui ibu, terus kamu mau bawa apa lagi din, kembali ibu bertanya dan aku akhirnya menjawab terserah ibu, soalnya aku bingung mau bawa apa aja, terus ibu mengusulkan, bawa bawang merah, bawang putih, lengkuas, jahe dan lain lain, untuk persediaan bumbu  did apur, dan aku hanya mengangguk menyetujui.. ibu dengan semangat kembali berburu sayur-sayur yang dirasa ibu cukup tahan lama untuk aku bawa, seperti kentang, tebu telok, tomat dan lain lain.. sepertinya ibu menikmati sekali berberlanja untuk kepulangan anakanya ini, batinku dalam hati.  kulihat ibu bersemangat sekali menawar  belanjaanya walaupun hanya selisih lima ratus rupiah. ..  “ nah, kalau uda banyak kayak gini ibu yakin kamu akan masak dikosan dan gak  akan beli makan sembarangan..” seru ibu antusias..  rupanya begitu jalan pikiran ibu, pikirku..
            Setibanya dirumah, belum begitu siang  tapi badanku cukup letih karena mondar mandir dipasar tradisoanal yang penuh sesak dan becek. Kulihat ibu mulai membongakar-bongkar belanjannya, aku malah duduk menyalakan televisi  sambil menonton drama korea favoritku.. kulihat ibu, keluar masuk kamarku, “din, ini sudah  pernah dipakai kan?” Tanya ibu sambil menunjuk gamis warna merahku, “ iya bu, memang kenapa..?” trus ibu menjawab mau dicucilah kan besok mau kamu bawa ke indralaya.. “segera ku jawab, bisa dinda aja yang nyuciin bu, tapi ntar ya..” tapi ibu berlalu begitu saja, tanpa aku duga, saat ku sudah selesai menonton, kulangkahkan kaki kedapur, semuanay sudah beres ternyata, gamis merahku sudah dicuci dan tinggal dijemur saja. Tiba-tiba rasa bersalah menghampiriku.. ku lihat ibu, sedang asyik memetik sayur sambil sesekali mengaduk masakannya di didalam wajan.. saat ibu menyadari  keberadaanku, ibu bertanya, “ din kamu mau bawa sambel apa besok? “ mau sambel cenge, sambel tempe atau sambel kresek..” Tanya ibu membuyarkan lamunanku.. dan lagi-lagi aku menjawab terserah.. jawaban itu bukan berarti aku cuek dengan ibu tapi aku menyuruh ibu memilih untuk membuat yang paling mudah dibuat, atau tidak usah sama sekali juga tidak apa-apa, aku tidak ingin merepotkan ibu..
            Malam hari sebelum tidur, ketika aku pergi kedapur kulihat ibu sedang memansakan cuka dan pempek yang akan dibawa besok.. ketika ibu melihatku, ibu bertanya, sudah masukkin pakaian-pakaianmu dalam tas din? Tanya ibu, “sudah semua bu”, jawabku sekenanya, “ooh, jangan sampai ada yang tertinggal ya..”
            Esok harinya selesai sholat aku kembali tidur, dan benar saja kali ini ibu membiarkanku bangun telat, di tengah tidur lelapku  bau nasi goreng ibu tiba-tiba  membangunkan ku dan menyadarkanku pada realitas saat ini, “hari ini aku pulang, liburanku sudah berakhir ”.. pekikku lirih dalam hati.. ku langkahkan kaki ke dapur. Ku lihat bapak sedang mengikat sebuah kardus yang aku tahu bekal kepulanganku hari ini. Saat aku tengah sibuk memperhatikan bapak,  Ibu menyapaku dari seberang meja makan, “cuci muka sana din, terus sarapan, travelnya jam 8 pagi ini kan? Aku tersadar dari lamunan, segera ku lakukan apa yang diperintahan ibu, saat semua sudah selesai ada perasaan aneh yang aku rasakan, aku merasa sepi, aku merasa ditinggal sendiri, aku merasa….. entahlah, yang pasti aku akan merindukan suasana rumahku, kamar dan tempat tidurku, juga suara kecerewetan ibu menasihatiku secara langsung..  tanpa ku sadari travel yang sudah ku pesan sudah tiba di depan rumah, segera bapak mengangkat kardus dan tas ransel ku kedalam bagasi  mobil, dari belakang, ibu memelukku sambil berkata, “baik-baik disana ya nak, jaga kesehatan. didalam kardus ada bekal makan siang, obat maag, obat sakit perut, oh ya, pempeknya jangan lupa dikukus lagi ya..” aku tak menjawab dengan suara, tiba-tiba bulir air menetes dari ujung mataku, segera ku ciumi tangan kedua orang tuaku, dan  melambaikan tangan sambil berkata.. “bapak, ibu, doakan dinda sukses yaa..”
           
kata ayah tentang dia

kata ayah tentang dia


Sore itu  mendung di langit. Hujan  yang tidak terlalu  deras baru saja reda. suasana sejuk masih begitu terasa, semilir angin lembut bertiup masuk ke dalam jendela kamarku.

Sejenak ku memikirkan apa yang baru saja Ayah katakan kepada ku. Lebih tepatnya apa yang ayah katakana tentang dia. Ingatan akan ucapan ayah terlintas kembali dalam ingatanku. 

“ dia pemuda yang sopan, , baik dan sudah mapan , nak“..

Dan saat mendengar itu aku tahu siapa yang ayah bicarakan dan mengarah kemana pembicaraan ini..

“Dia teman SMA mu ya?” Tanya ayah antusias

Dan aku hanya mengangguk tanda membenarkan..

“ceritakan pada Ayah tentang dia..” pinta ayah dengan lembut..

Dan aku menghela napas panjang sebelum mulai bercerita pada ayah tentang dia dan masa SMA ku..

“Tepatnya 7  tahun yang lalu, kami pernah menjadi teman satu kelas selama lebih kurang 2 tahun.. dia teman yang baik, sopan dan soleh, ayah..” kataku pelan, 

setidaknya itu yang aku bisa nilai dari sosok yang sangat aktif pada kegiatan rohis di SMA dulu..

 “Ayah tahu, tapi apa hanya itu saja ?” ayah kembali bertanya

“Apa yang ayah harapakan dari ceritaku ini ?” tanyaku sambil memandang ayah..

“Maksud ayah, cerita yang kau sampaikan terlalu standar nak..” ayah berhenti sejenak “semua orang bisa bercerita tentang itu semua”..

Aku menghela nafas, “  ya Ayah, hanya itu, aku berhenti sejenak sebelum akhirnya melanjutkan "tak terlalu banyak interaksi kami, dia anak yang benar benar tahu cara berurusan dengan perempuan, termasuk tentang menjaga pandangan.. “

“oooh..” seloroh ayah pura pura cuek kemudian melanjutkan “dan kenapa putri ayah terlihat merona pipinya..?” Tanya ayah yang langsung membuat pipi ku tambah merona..

Ayah memang pandai mengenali putrinya, atau aku saja yang tak pandai menyembunyikan perasaan ini. perasaan yang tak biasa saat membicarakan tentang dia.

Kembali ayah berkata, “dia pemuda yang baik nak”

“tadi saat kau ke dapur untuk membuat minuman, ayah banyak bercerita dengannya, tentang pekerjaan, kesibukannya dan tentang mu..” 

“Cara dia menceritakan  tentang kamu, putri ayah, ayah tahu ada sesuatu dalam matanya..Dia serius dengan mu, nak..”  ayah berhenti sejenak lalu menarik dan mengenggam tanganku lalu melanjutkan, 

" ayah berkata padanya, saat dia datang lagi kesini, berarti dia benar-benar serius terhadapmu nak..” kata ayah sambil menghela nafas  ”Begitulah pembicaraan ayah saat kau tiba-tiba datang membawa baki minuman..”

Aku benar-benar terkejut dengan pengakuan ayah, ayah telah bicara sejauh ini kepada dia, bahkan saat dia pertama kali bertamu ke rumah ini.. 

Aku tahu dari samping ayah memandangku untuk mendapatkan respon dan jawaban dari ku..  Aku hanya bisa menghela nafas, saat aku menjawab..

” ayah ini terlalu berlebihan utuk seseorang yang baru pertama kali datang..”  seru ku protes. "apakah setiap pemuda yang berkunjung kesini akan ayah tanyakan hal serupa..?” tanyaku geram terhadap perkataan ayah..

“Tidak nak..”  jawab ayah cepat..

“Ayah  tahu mana yang baik untuk putri ayah..”  ayah berhenti sejenak , “dan ayah melihat keseriusan pada diri pemuda itu..”

“ sudahlah ayah, pembicaraan ini sudah terlalu berlebihan..” potongku cepat untuk mengakhiri dan meninggalkan ayah menuju kamarku.

****

Untuk tiga minggu berikutnya aku masih mengingat jelas apa yang ayah katakan padaku, dan masih bertanya tanya, mengapa dia berkunjung ke rumahku secara tiba-tiba. rasanya jika untuk say hi, terlalu berlebihan. semenjak perpisahan SMA 7 tahun lalu kami bahkan sama sekali tak pernah saling sapa lagi. dia  kuliah di pulau yang berbeda dariku. dan sore itu  aku benar benar terkejut saat membuka pintu rumahku. dia hanya mengucapkan salam padaku sambil menanyakan kabarku . sempat aku hanya terpaku di depan pintu, sampai aku akhirnya tersadar dan segera mempersilakannya untuk masuk. saat mengingat kembali ucapan ayah sore itu, dalam hati aku mengharapakan Sesuatu yang lebih, Sesuatu yang seperti ayah katakan  pada ku.

Hari terus berganti, aku sudah tenggelam dalam aktivitas dan kesibukan baru ku, wisuda profesi ners sebulan yang lalu, telah membawaku terdampar bekerja di suatu rumah sakit daerah di ibu kota provinsi sebagai seorang perawat, walaupun masih bukan pegawai tetap, tapi aku bekerja dengan giat menikmati aktivitasku yang baru.

Tidak terasa sudah empat bulan aku bekerja di sana, tenggelam dengan aktivitasku sebagai seorang perawat, bertemu dengan pasien dan teman-teman sejawat, melaksanakan tugas- tugas, dinas di malam hari sampai sampai aku benar-benar lupa tentang perisitwa waktu itu.  saat tanpa sadar, aku teringat kembali akan hal itu dan menyadari tak ada kelanjutan dari peristiwa waktu itu, dalam hati  aku bertanya. "Sebenarnya apa maksud kedatanganya sore itu?" hatiku kecewa, tentu.  kalau saja dia tidak berkunjung waktu itu, tidak akan ada harapan seperti ini di hatiku. “Aku tidak mau hidup dalam harapan yang tak pasti" bisikku dalam hati dan berniat melupakan sepenuhnya peristiwa sore itu.

Pagi itu saat aku pulang dinas jaga malam, ayah menelpon..

“ nak, lagi sibuk? Tanya ayah

“Tidak ayah, ada apa?” Tanyaku langsung

“kamu bisa pulang tidak sabtu ini?” kan sabtu ini hari libur tahun baru islam..”

“ooh, tapi memang ada apa ayah..?” ayah tahu kan kalau bekerja di rumah sakit tidak ada yang namanya hari  libur..”  jawabku panjang

“ ada acara keluarga nak..” usahakan datang yah.. bisa kan? Pinta ayah

“akan ku usahakan ayah, sepertinya bisa karena aku belum pernah cuti semenjak aku pertama bekerja..”

“Hubungi ayah lagi kalau kamu bisa ya nak..”

“Oke ayah..” jawabku mengkahiri..

Ternyata permintaan cutiku diterima, jadi aku bisa mudik untuk acara keluarga. Walaupun hanya sampai hari senin, setidaknya ada waktu 2 hari aku berada di rumah.. aku mengabarkan hal ini kepada ayah, segera setelah permintaan cutiku diterima..

****

Perjalanan mudikku cukup melelahkan, bayangkan selama 8 jam aku hanya bisa duduk di dalam mobil, berhenti hanya untuk makan siang..

Saat tiba sampai di rumah dan beristirahat sejenak, rasanya begitu nyaman. Berada di rumah ku yang sebenarnya. Ketika pertama kali sampai aku langsung menghamburkan pelukan kepada ibu dan mencium tangan keduanya.. 

Lalu aku bertanya pada ibu, “ bu sebenarnya ada acara keluarga apa?” ibu tak menjawab apa apa, beliau hanya menjawab dengan senyuman..

Dan aku segera tahu saat hari esoknya tiba...

Ibu benar-benar sibuk memasak kue dan lain lain dan aku hanya bisa membantu tanpa tahu untuk apa ini sebenarnya.

Siang berlalu dengan cepat, sore hari telah tiba, saat ayah mengetuk pintu kamarku dan dan masuk seraya berkata.. 

“ ayah benar saat ayah mengatakan bahwa dia akan datang lagi kesini dan saat dia datang lagi kesini berarti dia serius terhadap putri ayah", sejenak ayah tersenyum dan melanjutkan "dia akan datang kesini membawa keseriusan nak..”

Saat itu juga dengan segala kesadaran aku mencerna kata-kata ayah.. “dia akan datang?” Tanyaku, 

“siapa?” tanyaku pura-pura tidak tahu

“Sedang dalam perjalanan nak, bersiap-siaplah..” segera setelah itu ayah keluar dan ibu masuk..

“Bu, apa maksudnya semua ini?” tanyaku

“Dia akan datang melamarmu nak.. dia sudah memintamu dengan ayah seminggu yang lalu”

“Berarti ibu dan ayah sudah merencanakan semua ini?” Tanyaku penasaran

“Seperti yang kamu lihat ..” seru ibu bersemangat

Sebelum aku bisa menjawab, ibu berkata, “tidak ada waktu lagi nak, bersiap-siaplah dia sudah dekat..”

****

Iring iringan lamaran sudah tiba, aku melihat dari balik jendela kamarku. Dia berada di tengah kedua orang yang aku kenali sebagai orang tuanya. Dia terlihat benar benar rapi dan tampan dengan memakai  stelan baju koko dengan kain songket yang melingkar di pinggangnya.

“Dia benar-benar datang..” pekikku dalam hati,  masih belum bisa menerima kenyataan

Dia melangkah masuk ke dalam rumah, setengah dari rombongan menunggu di luar.

 Dari balik pintu kamarku, aku bisa mendengar keriuhan di luar sana. Saat salah seorang dari pamanku menanyakan darimana dan sejak kapan dia mengenalku. Sayup-sayup aku mendengar jawaban darinya..

“ pertamakali aku mengenalnya 7 tahun yang lalu, waktu SMA..”Jujur aku katakan, ada perasaan berbeda saat pertama kali bertemu dan akhirnya satu kelas dengannya, sikapnya, kelembutanya, kesolehaanya sudah benar-benar membuatku berdoa dalam setiap sujudku, jaga dia untukku, sampai aku pantas untuknya, ya Rabb..” keriuhan bertambah saat ucapan terakhir itu terdengar.. dan aku tidak bisa mendengar apa-apa lagi..

Saat aku dimanta keluar, aku benar benar merasa gugup untuk pertama kali dalam hidupku.. merasakan momen moment dilamar seorang, begitu membuat jantungku berdegup kencang.. 

Ibu memegang tanganku, sambil melangkah menuju kearah ruang tamu.. perasaan gugup itu bertambah luar bisa saat aku tiba di ruang tamu. Saat mata aku dan dia bertemu, dia tersenyum  lembut memandangku.

Aku duduk di sebrangnya, di tengah tengah ibu dan ayahku. Saat pertanyaan yang sama pada setiap lamaran ditanyakan  pada ku, aku benar-benar gugup dan belum segera menjawabnya, ku lirik dia di sebrang sana masih diam menunggu jawaban dariku, akhirnya pertanyaan itu diulangi lagi..

“Bagaimana, apakah ananda Risya  menerima pinangan putra kami Ayas?” tanya ayahnya pada ku

menyadari kediamanku, dengan segera aku menjawab “ dengan izin Allah, bismillahhirrahmannirrohim, aku menerima..” 

seketika ruangan menjadi riuh oleh suara sanak keluarga ku dan dia menyambut jawaban ku itu..

“Dan begitulah, ketika Allah yang maha membolak-balikkan hati, allah yang maha mengetahui rahasia hati setiap hambanya sekecil apapun itu.. mempertemukan dua insan manusia  dalam balutan cinta nan suci, cinta yang halal untuk keduanya.. di setiap langkah yang kita tuju, di setiap doa yang kita panjatkan ada  jodoh kita yang telah disiapkan Allah.. berusaha itu perlu, dalam artian berusaha menjadi insan yang  lebih baik di mata Allah lah persiapan kita sesungguhnya, usaha itulah  yang mempertemukan laki-laki yang baik, untuk perempuan yang baik pula.. ini bukanlah perkara kapan waktu tersebut akan datang, tapi dengan siapa kita kan bersanding, yang berarti siapa kita saat ini.. sudah siapkah kita menjemput jodoh kita? sebaik-baik diri kita itulah jodoh kita.”

ku nanti saat ini

ku nanti saat ini


 By: yesica tria enggriani
Aku kira ini semua tidak sulit, ternyata lebih dari yang aku bayangkan.... hemm aku berpikir sejenak mengingat semua itu... lebih tepatnya dia... dia yang hampir belakangan ini menguasai penuh hati dan pikiran ku, menyita waktu senggangku... aku tahu ini tidak sepantasnya tapi... ah..lagi-lagi dia yang sekarang ada dipikiran ku....
Mengapa harus dia??? dia yang aku kagumi, dia yang sealu muncul dalam mimpi dan khayalku..Sebagai wanita biasa aku tak bisa memungkiri ini semua... tak bisa ya allah... setiap pertemuanku dengan nya menjadi momen aku mengingatnya... kebijaksanaannya, kecuekannya, pendiriannya yang teguh, partisipasinya dalam keagaamaan, tekadnya berjuang di jalan Allah entah apalagi itu... semuanya membuatku kagum... spertinya itu semua telah melekat penuh di dirimu.. wahai akhi...
Entah kapan lagi kita bisa bertemu, mengenang itu semua menyenangkan bagiku sekaligus menyesakkan ku atas rindu yang membuncah seperti saat ini...
Masih jelas dalam ingatan ku, sekitar tujuh tahun yang lalu, saat kebersamaan kita.... saat di mana akan selalu kukenang dan kurindukan, saat aku memiliki teman sekelas seperti mereka semua... tentunya termasuk kau... saat ketika aku mulai mengenalmu, saat perasaan itu masih sangat jauh dari lubuk hati ku... dan tanpa ku sadari perasaan itu muncul entah kapan dan bagaimana.. aku bingung memikirkannya, memikirakan tentang semua ini, lebih tepatnya tentangmu, tentang rasa yang mungkin sulit di definisikan... tapi kharisma dan pesonamu membutku tunduk, bertekuk lutut.
Sejak perasaan itu muncul, yang menjadi pikiranku tentunya semua tentang dirimu... dalam khayal dan mimpiku ada dirimu.. selalu saja. Apakah kau juga sama?? Pertanyaan yang mungkin takkan pernah terjawab... tak kan pernah ku ketahui walau bagaimana pun caranya...
Apakah perasaan ini sudah teralau berlebihan ya allah, sepertinya memang... lebih dari sekedar mengaggumi.. aku malu pada MU, ya rabb, aku hampir saja melupakan cinta ku pada pemilik cinta sejati, cinta yang menghimpun semua cinta... tapi aku bersyukur pada  Allah  karena dia masih memperhatikanku,  masih mengingatkan ku akan rasa yang tak seharusnya ini.... aku sadar..
Saat itu yang kupikirkan hanya lah bagaiman menghilangkan rasa ini, membuangnya jauh-jauh hingga aku tak bisa merasakan rasa ini kepada siapapun sebelum kau halal bagiku,.. .. menghindar darimu, tentu saja hal pertama yang kulakukan... salah satu cara yang aku pikir akan berhasil...  aku melihat sepertinya kau tak paham akan hal itu, kau di mata ku  lagi-lagi masih menebarkan pesonamu lewat perhatian yang aku kira  mungkin kau berikan untuk ku.. lagi-lagi sepertinya rasa ini yang menang, melesat jauh di dalam anganku, berkembang lebih dari yang ku bayangkan.
Dalam usahaku untuk melupakanmu yang masih terus  ku lakukan, dalam lirih aku meminta kepadaNya: ya Alaah ya rabb, bantulah aku, bantu aku menghilangkan rasa ini... membungnya hingga tak ada lagi yang tersisa... dalam tangis ku memohon “jika memang dia jodohku, perkenankan aku bertemu kembali dengannya dalam  keindahan, dan jika memang  bukan jauhkanlah ia sejauh-jauhnya dariku”... walau sepertinya tidak begitu berhasil, setidaknya cara ini mampu mengontrolku akan rasa yang belum  sepantasnya ini, bahwa ada cinta yang maha tinggi dari pemilik cinta sejati yang menghimpun seluruha cinta, yaitu cinta kepada allah... sang pemilik cinta abadi.
Ya... setidaknya rasa ini, tidak begitu berkembang daalm hati ku, sepertinya aku Cuma bisa mengharapkan m ungkin  saja cinta  bisa terkikis oleh jarak, rung dan waktu...  berharap bahwa cinta ini bisa hilang karena itu, setidaknya sedikit berkurang... tapi sepertinya aku salah... walu sudah di ujung kebersamaan kami... rasa itu masih tetap sama...
Tak bisa dihindari perpisahan memang akan terjadi, mengejar mimpi yang lebih tinggi  mengantarkan kami pada perpisahan ini... entah sudah rencanaMu atau bukan atau hanya suatu kebetulan dariMu ya Allah, ternyata kami kuliah di kota yang sama....tapi berbeda kampus... setidaknya aku mulai lega, aku tak melihatnya langsung didepan mataku..
Kesibukan baruku sebagai mahasiswa, mengurangi sedikit ingantan ku padanya...walau kadang-kadang di waktu senggang aku masih memikirkannya.....
Bersambung.....


karya pertama ku lO... ksh coment.. yaw...