#4 LOVE IN AUSSIE~Dilamar?



POV QAMIRA
Jarum jam di dinding kamarku menunjukkan pukul 16.20 Wib. Seusai mendirikan sholat Ashar, aku masih berguling guling malas di atas ranjang sampai sayup sayup kudengar bunyi derit pintu dari lantai bawah sebagai pertanda Mama dan Papa atau salah satunya sudah pulang.

Sesuai tradisi di daerahku, jika ada salah satu kerabat atau tetangga mengadakan syukuran baik kecil maupun besar, kerabat dan sanak keluarga yang lain pasti tumpah ruah ke rumah si empunya hajatan untuk sekedar bantu bantu ataupun meramaikan suasana. Maka tak heran, sejak kabar kepulangan kak Zain tersebar, Tante Nisa segera mengundang para tetangga dan kerabat dekat pada acara syukuran kecil kecilannya, persis seperti 2 tahun yang lalu. Dan disanalah—di rumah tante Nisa, Mama dan Papa selama beberapa jam yang lalu terdampar dan lupa pulang walaupun hanya untuk sekedar menengok kabar putri kesayangannya ini.

 

Secepat kilat aku menuruni tangga. Aku sudah tak sabar untuk merayu Mama dan Papa agar mau mengizinkanku kuliah ke Aussie karena disana ada kak Zain yang bakal jagain aku. Kurang apa lagi coba?.. ehmm

Ku langkahkan kaki ke arah Papa dan Mama yang berjaan salaing beriringan. Dari tempatku berdiri saat ini bisa kulihat tawa sumbringah Papa dan Mama. Sepertinya acara kumpul kumpul tetangga di rumah tante Nisa bisa meningkatkan mood Papa dan Mama. Buktinya sekarang, tawa tak pernah lepas meraka sunggingkan. How perfect this time to talk about it

“Pa, ma..” panggilku pelan

Hanya dengan suara sepelan itu, Papa dan Mama segera menoleh kearahku

“Mira mau bicara sebentar, bisa kan?” tuntunku ke ruang keluarga

“Ooh kebetulan sayang, Papa dan Mama juga mau bicara sama kamu..”

Kulihat Papa dan Mama mengekor langkahku menuju ruang keluarga..
Kini posisi kami sudah saling berhadapan

“mau bicara tentang apa sayang?” tanya Mama lembut

“Tentang kuliah Mira ma..”  jawabku singkat

“Ooh, kebetulan lag nih.. Papa juga mau bahas tentang itu..”  kali ini Papa yang berujar

“Okedeh, sekarang Mira yang mulai duluan ya”

Tanpa menunggu jawaban, aku segera memulai rayuanku..

“Ehmm, pa, Ma uda tahu kan kalo Mira maunya cuma kuliah Di Aussie. Gak ada di tempat lain. kalo gak,  lebih baik Mira gak usah kuliah sekalian..”  ucapku merajuk, walaupun sedikit ragu. Masa’ iya’ aku beneran gak kuliah..

“Beneran gak mau kuliah?” Tanya Papa, ada nada mengejek di suaranya

“Iya nggaklah Pa. maksud Mira, Mira Cuma Maunya kuliah di Aussie. Gak  ada tempat lain pokoknya..” jawanku tegas

“Ya udah Papa dan Mama Izinin..” ucap Papa santai yang diikuti anggukan oleh Mama

“ Serius pa?”  tanya ku tak percaya. Masih bingung kenapa Papa dan Mama tiba tiba ngizinin padahal baru juga dua hari yang lalu nolak mentah mentah dengan alasan harus ada yang jagain. Ehmm, Belum juga memulai rayuanku, tapi Papa dan Mama uda ngizinin aja..Horeee!!

“Alhamdulillah”  syukurku dalam hati

“ehmmm, tapi dengan satu syarat..” ucap Papa berbinar

“pokoknya, apa aja syaratnya Mira setuju, asal Mira diizinin kuliah di Aussie..” ucapku mantap, sengaja tak ingin mendengar syarat dari Papa. Palingan juga syaratnya jaga diri, rajin sholat, harus mandiri, jangan cengeng dan manja  dll lah..

“beneran? Gak mau denger dulu syaratnya apa?” Tawar Mama
Aku hanya mengangguk angguk mantap.

ARRGGGHH…. Mimpi apa aku semalam, sekarang aku uda dizinin kuliah Di Aussie, Aussie I’m coming..”  teriakku dalam hati.

Kulihat bukan hanya wajahku yang berbinar di ruangan ini, tapi juga wajah Mama dan Papa yang sepertinya ketularan rona bahagia dari purtinya ini..

Tapi tiba tiba, suasan menjadi serius kembali saat bunyi deheman terdengar dari tenggorokan Papa. Biasanya kalau Papa uda begini, ada hal serius yang ingin dibicarakannya.

“Ehmm,  dengarkan baik baik ya Mira, ini Syarat yang Mama dan Papa minta..” ucap Papa serius
Aku sudah siap mendengar baik baik seluruh wejangan dan nasehat yang bakal Papa dan Mama lontarkan, “gak apa apa, asal aku diizinin kuliah Di Aussie.”

“Tadi kamu uda langsung setuju aja syaratnya” kali ini Mama yang berbicara

“kalau syaratnya itu, kamu mesti ada yang jagain di sana, gimana mir?” tanya Mama, ada nada geli dalam suaranya

“semacam bodyguard gitu..?” tanyaku dalam hati      

Aku masih menerka-nerka arah pembicaraan ini. gak mungkin bodyguard kan maksudny?..

“maksudnya?” hanya satu kata itu yang akhirnya keluar dari bibirku

Tak sampai beberapa detik berlalu, semua pertanyaan besar dalam benakku tadi terjawab sudah..
Sebelum menjawab, Kulihat Papa dan Mama saling berpandangan seolah ingin menyampaikan sesuatu yang sangat amat penting.

“maksudnya kamu dijagain oleh suami kamu. Baru deh Papa dan Mama tenang disini..” ucap Mama mantap
Tidak ada sama sekali nada bercanda dalam suaranya. Yang ada hanya keseriusan

Hening…

Aku masih mencerna dalam hati kata kata Mama barusan..
“maksudnya kamu dijagain oleh suami kamu. Baru deh Papa dan Mama tenang disini..” ulangku dalam pikiran

 “suami? itu berarti menikah kan?” teriaku masih dalam hati

Tersadar dari kenyataan barulah aku bisa berteriak yang sebenarnya
“APA!!!”

“SUAMI?”

“MENIKAH?”

Telak dan tepat sasaran, Papa dan Mama tahu kelemahanku. Dan pasti mereka mengira bahwa aku akan mengurungkan mimpiku itu..

Kalau itu yang Papa dan Mama Pikirkan, maka mereka salah, Itu mimpi yang akan selalu aku perjuangkan. Sampai titik darah penghabisan.  Eettdah bahasanya..

“iya sayang..” Mama menanggapinya santai

“Mira  Nikah? Mira Cuma mau kuliah. Kok malah disuruh nikah..” ucapku cepat.

Kulihat Papa dan Mama  malah tersenyum melihat keterkejutanku. 

“Kamu pilih kuliah di Aussie, di Indo, atau gak kuliah sekalian Mira?” Tanya Papa tegas

“Papa kejam” rutukku dalam hati

“Di Aussie lah Pa” refleks aku menjawab

“Itu kan emang uda cita-citanya Mira dari dulu. Tapi ya gak pake nikah-nikahan segala lah Pa..” sanggahku kemudian

“Kamu itu anak gadis Papa dan Mama satu satunya Mira, gak mungkin Papa dan Mama ngelepas kamu di Negara asing seorang diri. Kalau kamu menikah itu berarti sudah ada seorang muhrim yang bisa ngejaga kamu di sana..” ucap Papa lembut.

“Tunggu.., aku belum meluncurkan rayuanku bukan? Masih ada dewa penyelamatku—kak Zain” 

“Di Aussie kan ada kak Zain Pa, kurang percaya apa lagi coba Papa dan Mama sama dia. Pasti Kak Zain lebih dari bisa Jagain aku..” ucapku selembut mungkin. Mencoba menawarkan solusi
“iya sayang, Emang Zain..” jawab Mama tak kalah lembut. Lagi lagi tedengar nada geli dalam suaranya

“Kenapa ada nada yang aneh ya dari suara Mama?” Tanyaku dalam hati

“Iya kan ada kak Zain, Ma” jawabku berbinar, sepertinya Papa dan Mama mulai termakan rayuanku
“Iya, Zain. Calon suami kamu sayang..”

“HAH!!”  Teriakku tak percaya

Ada yang lebih Gila lagi dari ini..?

“Maksudnya Kak Zain yang bakal jagain aku di sana? Tapi sebagai seorang suami gitu?..” ulangku
Kulihat Mama mengangguk

“Lelucon konyol apa lagi ini Ma..”  tanyaku setengah tak percaya

“Ini bukan lelucon sayang, ini kenyataan…” ucap Mama tegas

Kupicingkan kelopak mata, “Papa dan Mama sengaja mengatur perjodohan ini ya? Cuma biar aku ada yang jagain di sana?” tuduhku cepat.

“Ini bukan perjodohan Mira. Ini lamaran. Zain baru saja melamarmu sayang..” kali ini Papa yang menjawab

“apa lagi ini? kak Zain melamarku? Jadi ini bukan perjodohan?” tanyaku lebih pada diriku sendiri
Logikaku tiba tiba berontak. Aku masih punya senjata terakhir untuk membela diriku tanpa harus meniadakan mimpiku kuliah di Aussie dan tanpa harus menikah dengan Kak Zain. Yang benar saja MENIKAH?, Aku bahkan masih belum percaya bahwa dia telah melamarku..

“tapi gak harus dengan nikah juga Pa, Ma..” sanggahku kemudian

“sayang, tak ada tempat teraman seorang wanita selain berada di sisi suaminya.  Kau akan terlindungi baik lahir maupun batin di negeri asing itu Mira..” ucap Papa tegas

“Kak Zain gak harus jadi suamiku segala Pa, dia bisa menjagaku sebagai seorang adik dan tetangga dekatnya mungkin?”  tanyaku lemah, tak yakin apa yang baru saja aku katakan.

“iya kamu benar, tapi jika yang menjagamu itu adalah suamimu sendiri, maka akan lain ceritanya Mira. Dia pasti akan memprioritaskan dirimu di atas segalanya, dia akan melindungi kamu dengan segenap jiwanya, dia bisa bertindak tegas kepada kamu, membimbing kamu karena kamu adalah istrinya. Karena dia berkewajiban penuh atas hal itu..” jelas Papa kepadaku.

Setengah logikaku membenarkan apa yang diucapkan Papa barusan, bahwa kalau seandainya Kak Zain menjagaku hanya sebagai tetangga disana, tentu aku tak berkewajiban menuruti perintahnya segala karena notabennya dia bukan siapa siapaku toh? posisinya  juga amat lemah, dia hanya bisa sampai mengingatkan saja. tak bisa sampai melarang ataupun merasa berkewajiban melindungi dengan ‘segenap jiwanya’ seperti istilah Papa barusan... pasti ini yang dimaksud Papa.

“ARRRGGHHH..” aku berteriak dalam hati

“Tuhan, Kenapa mengejar mimpiku ke Aussie, begitu rumitnya..” rutukku dalam hati

“sayang, Papa dan Mama disini hanya sebagai Pihak yang menyampaikan Lamaran Zain, Kami sudah mengatakan baik dan buruknya. Tak ada paksaan sedikitpun kepadamu untuk menerima lamaran ini..” Papa menyimpulkan

“Tapi sekali lagi Papa tegaskan. Kamu tidak akan ke Aussie tanpa seorang yang memang Papa dan Mama percayakan jiwa dan ragamu padanya..” tutup Papa tegas.

Selepas kepergian Papa, Mama berpindah posisi menghampiriku. Memelukku erat seolah dengan pelukan itu sedikit bebanku akan terangkat

“inilah konsekuensi punya anak gadis sayang. Kamu kelak akan merasakannya. Bagaimana khawatirnya kami, saat akan melepasmu di tempat yang masih teramat asing dan jauh untuk kami, tolong pahami Papa..” ujar Mama memberi pengertian

“Dan, pikirkanlah mulai saat ini sayang, kami menunggu keputusanmu saat acara Syukuran di Rumah Tante Nisa, ba’da Magrib nanti..” ucap Mama mengakhiri, perlahan ia melepas pelukannya dan berdiri meninggalkanku, seolah memberikanku ruang untuk mencerna semua ini, untuk membuat keputusan segera.

Kulihat jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 17.25 WIB. itu berarti tak sampai satu jam lagi adzan magrib akan berkumandang dan itu pertanda bahwa aku harus segera menentukan keputusanku.

Menerimanya dan meraih mimpiku

Atau

Menolaknya dan melupakan mimpiku untuk selamanya..
                                      
“Tuhan, Aku harus memilih yang mana?” Tolong pilihkan untukku yang terbaik menurutMu..” Pintaku dalam hati

______________________

NEXT ; #5 LOVE IN AUSSIE~ menanti sebuah jawaban


EmoticonEmoticon